SOLUSI MENYUBURKAN KALBU, SEPERTI APA?

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الكَرِيْمِ المَنَّانِ؛ أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ العَظِيْمَةِ وَعَطَايَاهُ الجَسَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ المُلْكُ العَلَامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ أَفْضَلُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ :

Kalbu atau hati merupakan pusat rohaniah manusia. Mereka yang memiliki kalbu yang suci akan mudah memperoleh hidayah dari Allah. Sebaliknya, hati yang bernoda akan tertutup dari petunjuk-Nya. Akibatnya, hidup tenggelam dalam maksiat dan dosa.

Ketika mengomentari surah al-Hadid ayat 16-17, M Quraish Shihab dalam “al-Mishbah” mengibaratkan hati seperti tanah. Apabila tidak disentuh air, ia akan gersang.

Kalbu akan membatu jika tidak tersentuh zikir . Maka itu, zikir berfungsi sebagai penyubur kalbu. Firman Allah SWT, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)…” (Qs al-Hadid [57]:16).

Ayat ini mengisyaratkan pentingnya zikir untuk menundukkan dan menyuburkan kalbu. Dengan zikir, kita mengingat Allah, merasakan, dan menghadirkan-Nya dalam setiap aktivitas. Tidak ada celah bermaksiat karena keyakinan yang kuat akan kehadiran pengawasan Allah.

Ibnu Athaillah al-Sarkandi dalam “al-Qashd al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrad”, menyebut ada tiga macam zikir. (1) zikir lisan, ini adalah zikir sebagian besar manusia; (2) zikir hati, ini adalah zikir kalangan khusus di antara kaum beriman; dan (3) zikir roh, ini adalah zikir kaum lebih khsusus, zikir kaum arif dengan kefanaan mereka dari zikir, penyaksian mereka akan Tuhan, dan anugerah-Nya atas mereka.

Ibnu Athaillah juga menyebut, zikir lisan tanpa kehadiran hati adalah zikir kebiasaan yang kosong dari keutamaan. Zikir lisan dengan kehadiran hati mendatangkan manfaat. Lidah yang basah dengan kalimat zikir mesti menghadirkan hati.

Zikirullah juga bisa bermakna shalat, sebab shalat adalah salah satu upaya mengingat-Nya. Firman-Nya, “…Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (Qs Thaha [20]: 14).

Mendirikan shalat secara kontinu penuh ketaatan akan terasa berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Kekhusyukan dalam shalat akan bisa diperoleh oleh orang yang memiliki keyakinan sepenuh hati kelak menemui Allah dan akan kembali kepada-Nya. (Qs Al-Baqarah [2]: 45-46).

Lagi-lagi, shalat sebagai zikir mensyaratkan kehadiran hati untuk mengingat dan merasakan kehadiran Allah. Shalat yang khusyuk turut menyuburkan kalbu.

Shalat yang dilakukan secara lisan dan gerakan tubuh semata, akan membuatnya tetap bergelimang maksiat dan dosa. Maka itu, shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar pun tak lagi berfungsi.

Zikirullah dalam surah al-Hadid [57] ayat 16 di atas juga bisa bermakna Alquran. Salah satu nama Alquran adalah adz-Dzikru. Orang yang membaca, memahami, dan mengamalkan Alquran adalah orang yang mengingat Allah.

Alquran juga berfungsi sebagai syifa’ atau pengobat hati. (Qs Yunus [10]: 57). Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab “Zâdul Ma’âd” menulis, “Alquran adalah obat (penawar) yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat.”

Oleh karena itu, Alquran hadir sebagai solusi untuk mengobati sekaligus menyuburkan kalbu. Semoga Allah menuntun kita menjadi hamba yang hidup dalam zikir. Amin.

 

About Miswan M.Pd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *